Biodata

Nama                     : Deddy Taufik Mulyadi
Umur                      : 19tahun
Ttl                          : Jakarta, 09 Oktober 1990
Agama                   : Islam
Jenis kelamin          : Laki-laki
Alamat                   : Jln Bhayangkara, Komp BKN,
                               Sei. Besar-Banjarbaru
Anak ke                  : 2 dari 3 bersaudara
Tinggi badan           : 172cm
Berat badan            : 51kg
Pekerjaan               : Mahasiswa

Jurnal

PERAN MANAJEMEN KOLEKSI DALAM PEMENUHAN KEBUTUHAN INFORMASI PENGGUNA PERPUSTAKAAN

Desy Ery Dani,S.Sos
Staf pengajar Jurusan Ilmu Perpustakaan
Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro

Abstract
This Paper study about relation between collect management and retrieval information for users in library. The result from this research is Technology application in library makes everything more easyer for users and librarian, more efective for information retrieval. But, many librarian and users can’t operate this technology. Librarian they need more technology information training class and for users, library needs make user education program. This paper study hopefully can help for policy makers in library to preparing library services with technology information basic.
Key word : Collection management, information technology

1. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Manajemen mempunyai pengertian yang berbeda-beda namun secara umum manajemen adalah pengendalian dan pemanfaatan semua faktor dan sumber daya, menurut suatu perencanaan (planning) diperlukan untuk mencapai atau menyelesaikan suatu tujuan kerja tertentu. Manajemen yang berhubungan dengan perpustakaan berarti segala kegiatan perpustakaan yang diatur dengan menggunakan  perencanaan matang untuk mendukung dan mencapai tujuan bersama yang sudah digambarkan dalam visi dan misi masing-masing perpustakaan. Perpustakaan secara umum  mempunyai aktivitas yang kompleks mulai dari pengaadaan koleksi, pengolahan koleksi dan penyebaran informasi, yang masing-masing aktivitas ini harus di atur secara detail dan jelas, hal ini untuk memudahkan koordinasi penyebaran informasi kepada pengguna.
Perpustakaan universitas diharapkan sebagai media pendidikan, rekreasi, penelitian, pemanfaatan teknologi informasi dan sumber informasi.
  1. Pendidikan
Perpustakaan merupakan gudang koleksi buku dan non buku yang disimpan. Karya tersebut merupakan hasil pemikiran manusia yang berguna bagi mahasiswa dalam kaitannya pendidikan dan proses belajar mengajar secara mandiri. Sehingga diharapkan dapat memberikan wawasan luas pada mahasiswa dalam membekali diri ketika berada di lingkungan perkuliahan.
  1. rekreasi
Bahan pustaka yang beraneka ragam, mulai dari bacaan ringan sampai dengan berat dapat menjadi pilihan ketika mahasiswa jenuh mengahadapi rutinitas perkuliahan sehari-hari, di dalam perpustakaan hal ini dapat diminimalisir dengan adanya buku-buku yang dapat mereka pilih sendiri.
  1. Penelitian
Melalui koleksi bahan pustaka di perpustakaan dosen dapat bekerja sama dengan mahasiswa, atau mahasiswa ketika akan melakukan penelitian mandiri dapat mencari bahan referensinya melalui perpustakaan, di sini dapat ditemukan jurnal, buku maupun karya ilmiah sebelumnya yang dapat dijadikan acuan untuk penelitian yang akan dilakukan selanjutnya, sesuai dengan topik bahasan yang dipilih.

  1. Pemanfaatan TI
Koleksi di perpustakaan mungkin bisa terbatas jumlah dan relevansi informasinya, namun apabila menggunakan jejaring maya seperti internet, permasalahan keterbatasan topik informasi dapat terselesaikan secara tepat, bahkan informasi terkini juga akan mudah di telusuri. CD, Microchip, OPAC ( Online Paublic Acces Catalouge) sangat penting keberadaannya bagi perpustakaan terutama dalam membantu penelususran informasi.
  1. Sumber Informasi   
Perpustakaan dapat juga disebut sebagai gudang ilmu dan informasi, karena di tempat ini para pengguna dapat mencari informasi yang diinginkan dengan berbagai topik yang disajikan dalam bentuk yang beraneka ragam mulai dari bentuk elektronik sampai dengan manual ( tercetak), jadi tidaklah heran ketika seseorang membutuhkan informasi terbatas akan datang ke perpustakaan.
Proses pengelolaan manajemen koleksi di perpustakaan tidaklah mudah, banyak unsur yang harus di persiapkan untuk melakukan kegiatan manajerial di lembaga ini antara lain manusia dan mesin, dalam hal ini yang dimaksud mesin adalah alat  bantu yang digunakan untuk memperoleh kemudahan akan informasi yang dibutuhkan pengguna, yang berarti berhubungan dengan teknologi informasi yang berkembang pesat saat ini.
Perpustakaan bukan sekedar gudang penyimpan koleksi namun juga mengelola sistem informasi sebagai pusat sistem informasi perpustakaan memiliki aktivitas pengumpulan, pengorgasisasian sampai dengan pelayanan informasi hal ini haruslah di dukung yang namanya kemampuan menejerial. Jo Bryson dalam lasa Hs, mengungkapkan bahwa menejemen perpustakaan merupakan upaya pencapaian tujuan dengan pemanfaatan sumber daya manusia, informasi, sistem dan sumber dana dengan tetap memperhatikan fungsi manajemen, peran dan keahlian.

Salah satu aktivitas manajemen perpustakaan adalah pengolahan yang berkaitan erat dengan koleksi informasi yang dimiliki perpustakaan tersebut, perjalanan koleksi perpustakaan mulai dari pengadaan sampai pelayanan informasi inipun butuh manajerial, bila tidak yang akan terjadi adalah ketidak relevanan informasi yang akan di dapat pengguna.
  1. Pengadaan koleksi
Pengadaan koleksi dimulai dari pendataan daftar buku yang belum pernah dimiliki oleh perpustakaan sesuai dengan topik yang diiginkan, kemudian realisasi pengadaan yang bisa dilakukan dengan berbagai macam cara seperti membeli atau dari sumbangan, kemudian menginventaris bahan koleksi yang sudah dibeli, mempertagungjawabkan anggaran yang telah dipergunakan untuk membeli bahan pustaka, membuat laporan tertulis mengenai kegiatan pengadaan yang telah dilakukan.
  1. Pengolahan koleksi
Kegiatan ini sangat krusial karena menjadi penentu dalam kemudahan bagi pustakawan mencari informasi, hal ini dimulai dengan membuat klasifikasi bahan pustaka ( kegiatan mnegelompokkan bahan pustaka sesuai dengan subjek ilmunya masing-masing, klasifikasi ini dibedakan menjadi 2 yaitu DDC (Dewey Decimal Classification ) dan UDC (Universal Decimal Classification), kemudian dilanjutkan dengan katalogisasi yang merupakan kegiatan membuat kartu katalog untuk setiap bahan koleksi (buku/pustaka) mulai dari membuat konsep kartu katalog hingga penentuan berbagai macam kartu katalog). Pelabelan juga dilakukan pada tahap ini yaitukegiatan menulis nomor panggil setiap bahan pustaka kemudian menempelkannya pada punggung buku
  1. Pengorganisasian
Dalam hal ini beberapa penulis tidak menyertakan pengorganisasian dalam kegiatan pengadaan, namun saya memiliki pendapat lain dalam hal ini, pengorganisasian menurut saya yaitu proses penempatan bahan pustaka ke dalam rak buku, penempatan ini sesuai dengan nomor rak yang telah di tentukan pengelompokkannya sesuai dengan sistem terterntu, misal dengan sistem klasifikasi maka penempatan buku juga harus sepadan dengan subjek ilmu yang telah ditentukan atau ada juga beberapa perpustakaan yang ternyata sistem pengorganisasian untuk penempatan buku melalui sistem label warna dll. Buku di tata sesuai dengan tinggi rendah dan tebal tipis buku, agar enak dipandang mata karena terlihat rapi.
  1. Pelayanan
The Ultimate Goalnya perpustakaan terletak pada sistem pelayanan informasi yang diterapkan, sirkulasi orang sering menyebut pelayanan informasi perpustakaan dengan kata-kata ini, adalah kegiatan melayankan koleksi perpustakaan kepada para pemakai dengan berbagai kegiatan juga. Pelayanan pada setiap perpustakaan berbeda-beda sesuai dengan kemampuan dan tujuan dari perpustakaan. ada perpustakaan yang berbasis TI sehingga dapat ditebak, pelayanannya juga akan difasilitasi oleh teknologi canggih seperti OPAC, E-Journal, E-Book, Sistem Barcode bahkan bagian pelayanan keamanan dengan sensor elektronik juga akan digunakan, demi keamanan koleksi yang dilayankan.

1.2    Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut, penulis ingin mengetahui lebih lanjut mengenai peran menejemen koleksi melalui teknologi informasi diperpustakaan perguruan tinggi dalam kaitannya dengan pemenuhan kebutuhan informasi pengguna (mahasiswa).


1.3. Metode
Metode yang akan digunakan adalah metode penelitian kualitatif, yaitu suatu metode penelitian yang menekankan pada penggunaan diri peneliti sebagai alat, peneliti harus mampu mengungkap gejala sosial di lapangan dengan mengerahkan segenap fungsi indrawi, sehingga dapat di terima oleh responden dan lingkungannya agar mampu mengungkap data yang tersembunyi melalui bahasa tutur, bahasa tubuh, perilaku maupun ungkapan yang berkembang dalam dunia dan lingkungan responden. Metode ini menekankan pada penelitian observasi dilapangan dan datanya dianalisa non statistik meskipun tidak menabukan penggunaan angka. Melalui metode ini diharapkan dapat membantu untuk menemukan keterkaitan antara menejemen koleksi berbasis teknologi informasi dengan pemenuhan kebutuhan pengguna perpustakaan

1.4 Hasil dan pembahasan
Perpustakaan universitas merupakan jatung dari perkembangan ilmu pengetahuan, di tempat inilah hasil karya pemikiran manusia yang sudah di bukukan maupun dialih bentukkan di simpan, sebagai referensi para mahasiswa untuk mencari literatur dalam penyelesaian tugas maupun pemenuhan hasrat haus akan informasi.
Kecanggihan teknologi Informasi membuat perpustakaan universitas laris manis diserbu mahasiswa. Saat ujian akhir semester datang, mahasiswa biasanya banyak diberi tugas mata kuliah oleh dosen, baik tugas kelompok maupun individu. Untuk itu mau tidak mau mereka harus mencari literatur yang tepat agar bisa menyelesaikan tugasnya dengan cepat dan benar. Maka perpustakaan  universitaslah yang menjadi salah satu solusinya, karena di perpustakaan ini, tersedia desktop-deskop komputer yang menyediakan layanan informasi literatur secara online, yaitu melalui internet dan sistem penelusuran informasi seperti OPAC (Online Public Access Catalouge).  Dengan media ini mahasiswa cukup mengarahkan krusor komputer, menuliskan kata kunci dan meng-klik kiri kanan untuk mendapatkan informasi yang sesuai dengan kebutuhan mereka. Bentuk informasi yang didapatkannyapun beragam, seperti text (artikel/jurnal ilmiah) dan video.  kesemuanya mereka dapatkan secara online,  gratis dan cepat. Kemudahan akses informasi ini tidak dapat dipisahkan dari peran perpustakaan universitas yang menyediakan jasa  pengolahan dan penelusuran informasi melalui teknologi.
Perkembangan era informasi menuntut siapapun untuk  melek teknologi, tanpa terkecuali dunia perpustakaan yang cenderung kegiatan pengolahan informasinya secara teknis  banyak dilakukan secara manual. Namun, saat ini kegiatan teknis yang dilakukan secara manual sudah mulai ditinggalkan, dahulu sangat memungkinkan pustakawan mengolah data buku seperti mengkatalog, resensi buku dll, secara manual karena informasi yang diolah masih terjangkau dan bisa dilakukan dengan waktu relatif singkat. Tapi sekarang, dengan tingkat pendidikan yang sudah maju, di dukung perkembangan teknologi yang canggih, semua orang mampu menjadi produsen informasi, jadi bukan hanya ilmuan saja.  hal ini mengakibatkan banyaknya informasi yang tidak tertampung atau disebut ledakan-ledakan informasi (Information explotion). Bentuk informasinya beranekaragam seperti jurnal, artikel, buku, majalah, video, dll. Berdasarkan faktor tersebut, apabila pengolahan informasi masih dilakukan secara manual, akan menyita banyak waktu dan tenaga pustakawan.
Kenapa Teknologi menjadi penting bagi perpustakaan, di karenakan kegiatan pelayanan  merupakan ujung tombak penilaian baik atau buruknya sebuah perpustakaan, hal ini terkait dengan tingkat kepuasan pengguna perpustakaan pada akses informasi. Saat ini Perubahan paradigma masyarakat terhadap perpustakaan berangsur membaik, paradigma ini tidak dapat dipisahkan dari peranan teknologi. Kemajuan teknologi menjadi pokok penting sebuah perpustakaan mampu memberikan pelayanan prima pada penggunanya. Bagaimana tidak, melalui sistem penelusuran informasi seperti OPAC (online public access catalouge) pengguna bisa mengetahui seluruh koleksi perpustakaan tersebut yang diklasifikasikan dalam berbagai jenis, baik text maupun video. Melalui OPAC, mahasiswa dapat mencari katalog koleksi bahan pustaka melalui klasifikasi subjek, pengarang dan judul.  Bahkan melalui internet protokol informasi yang didapatkan lebih beragam dan interaktif. Bagi mahasiswa,  informasi upto date dan cepat menjadi penting, terutama pada mahasiswa tingkat akhir yang banyak membutuhkan literatur ilmiah yang digunakan untuk mendukung penelitiannya seperti e-jurnal, e-book, e-learning dll. Begitu juga bagi dosen, yaitu mempersiapkan bahan perkuliahan, bahkan dengan kecanggihan teknologi saat ini, proses belajar mengajar tidak perlu bertemu secara fisik dan bisa terpisah jarak serta waktu yang dilakukan secara online misalnya melalui teleconference, maka ada yang menamakannya sebagai virtual class (kelas virtual). Segi pelayanan simpan pinjam bahan pustakapun menjadi mudah karena semua terkomputerisasi menjadikan informasi data peminjam dan bahan pustaka yang dipinjampun langsung terdaftar setelah ada proses scanning pada bahan pustaka yang berlebelkan barcode, sehingga resiko koleksi hilang dapat diminimalisir. Untuk itu kemudian muncullah istilah yang dinamakan perpustakaan elektronik dan perpustakaan digital, sebenarnya masih banyak silang pendapat diantara para ahli mengenai istilah ini yang memang hampir sama, namun menurut hemat penulis batasan untuk perpustakaan elektronik yaitu berupa perpustakaan yang koleksinya berbentuk elektronik seperti CD, kaset, microfish, microchip dll. Sedangkan perpustakaan digital yaitu perpustakaan yang koleksinya sudah digitalkan dalam bentuk online dan dipublikasikan malalui internet, dengan menggunakan fasilitas ini maka mahasiswa tidak akan terbatasi oleh birokrasi, ruang maupun waktu.

Perkembangan teknologi juga menuntut pustakawan lebih dinamis dan produktif, karena proses pengolahan informasi menjadi lebih cepat, informasi mudah dipublikasikan pada pengguna dan nilai keakuratannya bisa dipertanggungjawabkan, maka tanggung jawab pustakawan selanjutnya adalah bagaimana mampu mendidik para pengguna perpustakaan agar dapat menelusur informasi yang tepat sesuai kebutuhannya, baik secara manual maupun secara elektronik secara mandiri, sehingga tidak menggantungkan pada bantuan pustakawannya saja. meskipun dengan adanya teknologi masuk ke perpustakaan menjadikan dinamika informasi menjadi lebih mudah dan cepat.  Namun masih terdapat kendala adanya penerapan teknologi ini yaitu :
  1. Dari segi Pustakawan
-         Adanya ketakutan dari pustakawan, suatu saat tenaga pustakawan akan tergantikan oleh sistem komputer
-         Waktu dan tenaganya tidak banyak digunakan
-         Masih adanya pustakawan yang buta teknologi
-         Biaya penggunaan teknologi terapan untuk perpustakaan masih mahal.
-         Adanya ketakutan bahwa bahan pustaka cetak menjadi dokumen tidak terpakai karena semuanya telah di online kan menjadi perpustakaan digital, sehingga perpustakaan  hanya seperti museum.
Menurut Ardoni dalam buku Dianamika informasi dalam era global ada enam aspek yang berkaitan dengan kemampuan manusia dalam mengoptimalkan teknologi informasi di perpustakaan yaitu sikap pustakawan, kemampuan pustakawan, perancangan program aplikasi, peraturan tentang angka kredit, materi pendidikan kepustakawanan dan organisasi.  Hal tersebut perlu diperhatikan agar pustakawan siap menghadapi telnologi informasi di dalam perpustakaan.



  1. Dari segi mahasiswa
-         Mahasiswa menjadi tidak aktif dalam mencari sumber informasi sehingga banyak yang hanya mengcopy informasi tanpa dianalisa terlebih dahulu untuk dijadikan tugas mata kuliah.
-         Mahasiswa menjadi kurang  literatur perkuliahan yang berbentuk bahan pustaka cetak.
-         Banyak informasi dari internet yang kurang mendidik bagi mahasiswa, seperti situs porno dll
-         Masih adanya pengguna yang belum melek teknologi dan mengetahui benar bagaimana menelusur informasi melalui teknologi yang diterapkan di perpustakaan tersebut.
Faktor-faktor tersebut merupakan sedikit permasalahan yang mungkin timbul dengan adanya teknologi, namun permasalahan tersebut masih dapat diminimalisir yaitu dengan cara
1.      peningkatan sumber daya manusia pada staf pustakawan, karena untuk ke depannya pustakawan dituntut untuk lebih komunikatif, berkemampuan dalam bidang penelitian berbasis bidang perpustakaan, mengauasai TI, dan mampu berbahasa asing. Hal ini sebagai penunjang dalam peningkatan pelayanan pada pengguna.
2.      bekerja sama dengan lembaga pemerhati pendidikan dan menjadi sponsorhip untuk penyediaan komputer dan internet
3.      memberikan tugas pada mahasiswa untuk mencari  informasi literatur yang berbentuk bahan pustaka cetak. Karena meskipun sudah banyak informasi dari buku yang di publikasikan secara online, namun kiprah bahan pustaka cetak masih tetap diminati, bahan pustaka cetak seperti buku memiliki kelebihan yaitu lebih fleksibel dibaca dan mudah dibawa tanpa harus tergantung arus listrik dan tidak membuat mata cepat lelah ketika membaca.
4.      User Education (pendidikan pemakai) perpustakaan sebagai program dari perpustakaan sebagai upaya mendidik para pengguna untuk mandiri melakukan penelusuran informasi baik secara elektronik maupun manual.

Kesimpulan
Studi ini diharapakan dapat bermanfaat bagi para pengambil kebijakan dalam bidang perpustakaan, bahwa kemampuan manajerial harus dimiliki oleh seorang pemimpin perpustakaan dalam kaitannya dengan pemberian citra positif  pada perpustakaan. Kemampuan ini juga akan berimbas pada kemahiran dalam menangani sistem pelayanan dalam diri perpustakaan sendiri, paradigma pelayanan dalam era informasi sekarang telah berubah dari yang konvensional menjadi serba digital. Pustakawan di tuntut untuk pro aktif menyiapkan diri menghadapi perubahan yang sudah terjadi saat ini dengan bekal ilmu pengetahuan mengenai automasi perpustakaan, karena saat ini informasi sudah dikemas dengan sedemikian rupa agar lebih praktis dan mudah dalam bentuk digital. Penguasaan TI pada pustakawan akan membantu pengguna yang kesulitan dalam bidang TI. Manajeman koleksi melalui sistem terautomasi di perpustakaan ternyata sangat memebantu dalam kecepatan temu balik informasi yang dinginkan secara efektif dan efisien. Informasi memang akan terus ada dan teknologi pun akan semakin berkembang, namun kiprah perpustakaan juga harus tetap dijaga melalui pemanfaatan teknologi secara maksimal, sehingga kepuasan pengguna akan akses informasi dapat terlayani dengan mudah, cepat dan tepat.



Daftar Pustaka
  1. Koswara E (editor), 1998. Dinamika Informasi dalam era Global. Bandung ; PT Remaja Rosdakarya
  2. Soeprapto, SU. 2002. Metode Penelitian Kualitataif. Jakarta ; Universitas Terbuka.
  3. Lasa, Hs. 2007. Manajemen Peprustakaan Sekolah. Yogyakarta : Pinus.
  4. Darmono. 2003. Manejemen Perpustakaan. Jakarta
  5. Sumardji,P. 1988. Perpustakaan Organisasi dan Tata kerjanya. Yogyakarta : Kanisius

Artikel Sejarah Pendidikan Jurnalistik

Pendidikan jurnalistik dewasa ini sangat banyak ditawarkan di perguruan-perguruan tinggi, dan peminatnya pun cukup banyak pula. Di antara para wartawan yang kita kenal di Indonesia, ada yang pernah mengenyam pendidikan formal ini, namun tak sedikit pula yang tidak pernah dirasakannya sama sekali.
Walaupun tidak melalui pendidikan formal, namun seorang wartawan haruslah mengetahui fungsi utama tugasnya sebagai wartawan, yaitu apa yang secara universal dikenal: (1) menyajikan informasi; (2) memberikan pendidikan; (3) memberikan hiburan.
Untuk bisa menjalankan fungsinya ini, seorang wartawan dituntut untuk dapat memenuhi persyaratan tertentu, seorang wartawan dituntut untuk dapat memenuhi persyaratan tertentu, yaitu pertama: memiliki kecerdasan; kedua: senantiasa bersikap waspada; ketiga: memiliki rasa ingin tahu yang tak habis-habisnya; keempat peduli terhadap masyarakat; kelima: akal yang panjang; keenam: memiliki kepekaan terhadap ketidakadilan; dan ketujuh: berani untuk berbeda pendapat dengan pihak yang berkuasa.
Di samping itu tentu saja seorang wartawan harus dapat mengantisipasi kemungkinan risiko yang harus ditanggung dalam melaksanakan kewajibannya.

Kerja Rutin Wartawan dan Kehidupan di dalam News Room
Dalam pelaksanaan tugas jurnalistik di sebuah penerbitan ataupun sebuah stasiun radio/televisi, sebagaimana halnya sebuah institusi, terdapat pembagian tugas yang jelas, demi penjaga kelancaran kerja sehari-hari.
Selain itu setiap insan yang bekerja sebagai seorang wartawan dan menjadi anggota sebuah organisasi yang secara resmi diakui eksistensinya, baik oleh pemerintah maupun oleh masyarakat luas, hendaknya menaati kode etik yang telah diakui dan diterima oleh organisasi tersebut.

Pengertian Berita
Pada dasarnya berita adalah laporan tentang suatu kejadian yang dianggap penting dan menarik. bagi khalayak. Dari berbagai macam batasan yang diberikan orang tentang berita, pada prinsipnya ada unsur penting yang harus diperhatikan yaitu unsur-unsur laporan, kejadian/peristiwa/pendapat yang menarik dan penting, serta disajikan secepat mungkin (terikat oleh waktu). Berita tersebut memiliki beberapa kriteria, antara lain harus akurat, lengkap, objektif, seimbang, jelas dan ringkas.

Berbagai Jenis Berita
Ditinjau dari penyajiannya, berita terdiri dari straight news dan features. Straight news dari soft news dan hard news. Features terdiri dari beberapa macam, mulai dari bright sampai enterprise story.
Dalam media cetak, selain berita juga terdapat berbagai tulisan seperti tajuk rencana, analisis berita, komentar berita, aritkel opini, resensi, pojok dan kolom.

Jenis Tulisan dalam Media Cetak
Jenis tulisan yang biasa muncul dimedia cetak adalah: Features (Karangan Khas), Editorial (Tajuk Rencana), kolom, News Commentary (Komentar Berita), News Analysis (Analisis Berita), Artikel Opini, dan Review/Resensi/Kritik.
Ada 2 teknik menulis resensi/revlew/kritik, yaitu secara impresif dan autoritatif. Kedua jenis metode ini nampaknya terpisah, tetapi dalam kenyataannya, wartawan bidang seni terkadang menggabungkan kedua metode ini.

Pengertian Sumber Berita
Dalam menjalankan tugasnya, seorang wartawan/jurnalis pasti akan berhubungan dengan sumber berita. Sumber berita tidak hanya manusia tetapi juga peristiwa.
Sumber berita merupakan awal dari proses terciptanya berita. Dalam proses inilah diperlukan kemampuan wartawan dalam mencari dan mengolah sumber berita sehingga dapat tercipta sebuah berita yang baik dan benar serta layak ditampilkan.

Metode Perolehan Berita
Terdapat beberapa metode untuk memperoleh berita yang terdiri dari wawancara, observasi, riset kepustakaan, press release/press conference dan statement of informan.
Sebagian besar metode perolehan berita adalah melalui wawancara. Tetapi dalam perkembangan jurnalistik mutakhir, angka dan data dari kepustakaan juga ambil peranan penting. Observasi adalah kegiatan mental yang subjektif dari wartawan sebagai hasil pengolahan stimuli di sekitarnya dan observasi ini digunakan untuk “mempermudah laporan”.
Press Conference, penting terutama untuk memperoleh background information untuk hal-hal yang masih sangat baru. Sedangkan statement of information bukan digunakan sebagai narasumber, tetapi metode yang artinya harus dilacak lagi kebenaran dan kegunaannya bagi masyarakat.

Melindungi Sumber Berita
                Dalam membina hubungan dengan narasumber, seorang wartawan harus memperhatikan beberapa etika. Beritahukan tujuan kita kepada narasumber. Lindungilah kredibilitas dan reputasi sumber berita, hargailah hak-hak narasumber, dan jangan sekali-sekali mengharap narasumber “tergelincir” dalam pernyataannya.

Artikel Telepon Murah Bahkan Gratis Menggunakan Skype versi 4.0

Skype, pembuat teknologi telepon murah bahkan gratis telah meluncurkan skype versi 4.0. Pemimpin web komunikasi Skype memulai pengujian kepada masyarakat umum pada hari Rabu pada software terbaru untuk membuat percakapan telepon menjadi murah atau gratis. Tes versi 4.0 memperbolehkan para pemakai untuk menempatkan foto yang lebih besar dari versi sebelumnya, untuk mendorong pemanggil untuk lihat dan dilihat.
Skype 4.0 juga menyertakan corak untuk para pemakai yang mengerti tentang teknis yang dideteksi oleh setting komputer, ketersediaan bandwidh dan koneksi audio atau devices video untuk membuat menjadi lebih mudah.
Skype megizinkan pemakai untuk berkomunikasi dengan dunia internasional, di kebanyakan negara biayanya gratis dan menghubungi dari komputer sky-equipped atau telepon ke landlines atau menelepon pada tingkat tarif yang murah. Skype mendapatkan penghasilan sebesar $382 juta pada tahun 2007 dan Wall Street analis mengharapkan puncaknya pada tahun 2008 ini sebesar $500 juta.
Selama usia tahun ke-5 pelayanan Skype telah terhitung 309 juta pemakai mulai dari akhir Maret, dan 12 juta para pemakai bersama pada jam sibuk setiap hari. Para pemakainya dapat mengirimkan dari komputernya pesan cepat dan pesan teks ke telepon, berbagi data besar atau bercakap-cakap via telepon video.
"Para pemakai Skype sedang berkomunikasi di banyak gaya berbeda, sering pada waktu yang sama," yang dikatakan Josh Silverman, veteran eBay eksekutif dimana sebagai President Skype pada tahun ini.
"Kita pikir ini adalah waktunya untuk perangkat lunak untuk turut serta," seperti yang dikatakan oleh Silverman." Sekarang video sungguh membawa semua gaya komunikasi itu." lanjutnya.
Pertumbuhan ketenaran video-call itu telah berlangsung, di samping fakta bahwa versi Skype perangkat lunak yang ada membuat fitur video susah untuk ditemukan. Para pemakai harus memulai dengan panggilan kepada seorang teman, kemudian tekan tombol find untuk menambahkan video untuk panggilan.
Michael Bartlett, Direktur Skype produk manajemen untuk Windows, berkata Skype insinyur sudah merancang teknologi kompresi data yang memungkinkan percakapan suara dengan kualitas yang kaya, bandwith percakapan yang diperlukan minimum 2 kb/s dan untuk video 6kb/s.
Versi 4.0 mengambil keuntungan dari kecepatan rata-rata lebih cepat sekarang dapat mencapai kecepatan 256 kb/s atau lebih baik, ia berkata. Untuk full screen video calls skyp 90 kb/s idealnya, ia menambahkan.
                Skype akan memposting artikel lebih lanjut di dalam webnya, para pemakai windows diharapkan menguji Skype versi 4.0 di webnya.

Artikel VoIP – Voice Over IP, Solusi Telepon Murah lewat Internet

VoIP merupakan suatu teknologi komunikasi yang menawarkan kemudahan bertelepon melalui Internet. Kini berkomunikasi melalui telepon tidak hanya bisa dilakukan dengan mengandalkan pesawat telepon konvensional maupun handphone saja, namun melalui Internet kita juga bisa melakukannya.
---
VoIP sendiri merupakan kepanjangan dari Voice over Internet Protocol atau yang lazim disebut juga dikenal dengan sebutan IP (Internet Protocol) Telephony atau Telepon Internet. Dengan VoIP, kita tidak lagi memerlukan pesawat telepon.
VoIP sendiri lebih sering digunakan untuk sambungan panggilan jarak jauh, seperti interlokal maupun internasional. Alasan utamanya dikembangkannya teknologi ini tidak lain adalah karena mahalnya biaya komunikasi, dalam hal ini telepon konvensional. Oleh karenanya alasan utama orang memakainya pun adalah karena murah, atau bahkan bisa dibilang 'gratis' karena tidak dikenai biaya pulsa konvensional, hanya memerlukan biaya sambungan Internet saja. Untuk memulai suatu pembicaraan VoIP, kita hanya memerlukan seperangkat komputer, mikrophone dan speaker serta koneksi Internet saja.
Pada dasarnya ada tiga jalan untuk menggunakan VoIP, yang pertama adalah jika kedua belah pihak mempunyai komputer beserta sambungan Internetnya. Jalan yang kedua adalah jika pihak yang satu memakai komputer sedangkan pihak yang lain memakai pesawat telepon. Sedangkan yang ketiga adalah kedua belah pihak menggunakan pesawat telepon.
Hal menarik dari VoIP adalah bahwa dalam penggunaannya VoIP tidak memerlukan infrastruktur tambahan, sehingga menghemat biaya. VoIP meneruskan suara melalui infrastruktur standart Internet, dengan memakai protokol IP. Itulah mengapa kita dapat berkomunikasi tanpa harus membayar lebih selain harga koneksi Internet itu sendiri, hal ini tentu saja sangat menguntungkan untuk komunikasi jarak jauh (interlokal maupun internasional) yang pada penggunaan telepon konvensional biasanya menghabiskan biaya yang mahal. Untuk memudahkan pemakaian teknologi ini, kini telah tersedia berbagai macam layanan gratis VoIP seperti Skype, Gizmo, VoIPStunt dan berbagai macam aplikasi layanan VoIP lainnya.
VoIP bisa menjadi tidak gratis lagi jika digunakan jauh dari komputer, semisal menggunakan perangkat pesawat telepon atau handphone, karena penggunaannya akan memerlukan layanan berbayar. Namun begitu layanan yang dimaksud tetaplah lebih murah dibandingkan dengan penggunaan jasa telepon konvensional. terutama untuk penggunaan jarak jauh internasional, menurut analisa bisa menghemat biaya hinga hampir 90%.
Sebagai teknologi yang relatif baru, VoIP dengan cepat telah diterima secara luas. Namun begitu, VoIP diharapkan terus mengembangkan teknologinya di masa yang akan datang, terutama dalam hal pengaturan pemakaian dan masalah keamanannya. Selain itu VoIP telah berhasil memposisikan diri sebagai salah satu kandidat teknologi terbaik pengganti POTS (Plain Old Telephone Systems).
                Pertumbuhan pemakaian VoIP sendiri dapat diperbandingkan dengan pertumbuhan Internet pada awal 90'an. Tentu saja hal ini tidak lepas dikarenakan kesadaran masyarakat akan keuntungan dari pemakaian teknologi ini dalam solusi komunikasi masyarakat, khususnya di Indonesia dimana biaya komunikasi terbilang masih mahal.(dna)

Artikel Web 3.0, Sebuah Bukti Inovasi Tiada Henti

Jika ingin melihat akan seperti apa perkembangan web di masa depan, maka Web 3.0 adalah jawabannya. Terobosan ini merupakan bukti bahwa teknologi World Wide Web selalu berkembang.
Dunia maya (baca: Internet) telah banyak mempengaruhi kehidupan manusia dewasa ini. Semakin banyak orang yang menggantungkan perkembangan informasinya kepada Internet, sehingga teknologi yang dipergunakan dalam pembangunan sebuah situs web pun terus berkembang. Dari era pertama web dikembangkan (Web 1.0), dimana pengunjung hanya bisa mencari (searching) dan melihat-lihat (browsing) data informasi yang ada di web, kemudian bergeser pada era pengembangan web kedua (Web 2.0) di mana pengunjung mulai dapat melakukan interaksi dengan diatur oleh sistem yang ada pada web. Jenis interaksi yang dapat dilakukan pada era kedua ini antara lain untuk saling bertukar informasi (sharing), eksploitasi informasi, dan juga pembuatan komunitas-komunitas online seperti yang marak saat ini, seperti Friendster, Multiply, YouTube, dan lain-lain. Masing masing komunitas ini mempunyai kepentingannya sendiri dalam saling bertukar data maupun informasi yang mereka himpun. Dalam era inilah sebenarnya interaksi sosial dalam dunia maya mulai dikembangkan. Dan mulai dari era ini pulalah ide untuk mengembangkan aspek sosial sebuah web mulai dipikirkan.
Aspek sosial yang dimaksud, terutama adalah aspek interaksi. Bagaimana sebuah web dapat memberikan sebuah interaksi sesuai dengan kebutuhan informasi setiap pemakaianya, merupakan sebuah tantangan utama dikembangkannya versi Web 3.0 ini. Walaupun hanya bersifat virtual 3D, namun ternyata banyak yang mengharapkan perkembangan teknologi web ini dapat memenuhi kebutuhan setiap bidang informasi, bahkan setiap orang yang mengunjunginya.
Jika dianalogikan dalam kehidupan nyata, masyarakat kini ingin diperlakukan seperti seorang pengunjung butik dalam mendapatkan apa yang diinginkannya. Bukan seperti pengunjung supermarket yang dibiarkan mencari dan mendapatkan sendiri barang yang dinginkannya. Pengunjung sebuah web ingin dimengerti kemauannya oleh ‘toko’ penyedia informasi (dalam hal ini website). Inilah yang dimaksud dengan tantangan bagaimana sebuah web dapat mengerti dan membantu pengunjung dalam berinteraksi dengan semua informasi yang ada. Sehingga tak mengherankan jika kemudian ciri dari pengembangan web generasi ketiga ini adalah web yang bersifat ‘nyata’, benar-benar ada interaksi yang terjadi, kemudian dapat memberikan suggestion atau ‘anjuran’ kepada pengunjung dalam mendapatkan informasi yang diharapkannya, dan tentu saja juga tetap bersifat ‘provide’ atau mampu menyediakan informasi yang dibutuhkan.
Web 3.0 sendiri merupakan sebuah proyek pengembangan semantic web, yaitu sebuah sistem web yang dapat melacak setiap kaitan dari kata-kata yang terangkai, berkaitan dengan arti setiap kata yang dipakai. Tujuannya tentu saja agar web dapat menjadi media umum untuk bertukar informasi melalui dokumen-dokumen yang bahasanya dapat dimengerti oleh sistem, sehingga para pengunjung web dapat dengan mudah mencari data yang tepat atau minimal berkaitan dekat dengan apa yang kita maksud. Web 3.0 sendiri merupakan sebuah realisasi dari pengembangan sistem kecerdasan buatan (artificial intelegence) untuk menciptakan global meta data yang dapat dimengerti oleh sistem, sehingga sistem dapat mengartikan kembali data tersebut kepada pengunjung dengan baik.
Saat ini adaptasi Web 3.0 mulai dikembangkan oleh beberapa perusahaan di dunia seperti secondlife, Google Co-Ops, bahkan di Indonesia sendiri juga sudah ada yang mulai mengembangkannya, yaitu Li’L Online (LILO) Community.
                Permasalahan lain yang potensial muncul adalah, sebagai teknologi masa depan, Web 3.0 juga membutuhkan kecepatan akses Internet yang memadahi dan spesifikasi komputer yang tidak enteng, hal ini disebabkan tak lain karena teknologi ini secara visual berbasis 3D. Sedangkan seperti yang kita tahu biaya akses Internet dengan kecepatan tinggi di Indonesia ini masih terbilang mahal bagi masyarakat umum. Belum lagi jika dihitung dari biaya spesifikasi perangkat komputer yang dibutuhkan, mungkin masyarakat Indonesia yang ingin menikmati kecanggihan layanan berbasis teknologi Web 3.0 masih harus menarik nafas penjang. Namun karena Web 3.0 sendiri masih dalam pengembangan, seiring dengan berlalunya waktu sebagai masyarakat Indonesia kita masih bisa mengharapkan bahwa biaya komunikasi, dalam hal ini koneksi Internet kecepatan tinggi akan semakin murah nantinya, sehingga terjangkau bagi masyarakat luas.(dna)

Artikel Pertumbuhan Internet dari Waktu ke Waktu

Jika membicarakan tentang sejarah Internet, maka tidak akan pernah lepas dari ARPANET dan NSFNET (The US National Science Fundation). Kedua jaringan ini merupakan penggagas jaringan Internet yang kini kita gunakan. Pada tanggal 1 Januari 1983 TCP/IP dinyatakan sebagai satu-satunya protokol resmi. Sejak ARPANET dan NSFNET digabungkan, maka pertumbuhan penggunaaan jaringan ini semakin banyak. Kemudian pada pertengahan tahun, masyarakat mulai memandang kumpulan-berbagai macam jaringan ini sebagai Internet.
Perkembangan Internet kian marak pada tahun 1990 dimana kumpulan jaringan ini telah bertumbuh menjadi 3000 jaringan dan 200.000 komputer. Tahun 1992 kurang lebih tercatat 1 juta host telah terkumpul di Internet. Menurut Paxson, pada tahun 1995 terdapat banyak backbone, ratusan jaringan regional, puluhan ribu LAN, jutaan host dan puluhan juta pengguna. Disinyalir jumlah ini terus bertambah dua kali lipat setiap tahunnya. Secara sederhana pada awal pemakaiannya Internet mempunyai empat aplikasi utama sebagai berikut: : 
1. Email
2. News
3. Remote Login
4. Transfer File
               Seiring dengan berjalannya waktu pada tahun 1990 Internet lebih banyak dipakai di kalangan akademis dan pemerintahan, hingga kemudian diumumkan aplikasi WWW (World Wide Web) yang sangat membantu kalangan non akademis ke jaringan. Selain itu WWW juga memungkinkan pembuatan sejumlah halaman informasi yang dihubungkan dengan link-link satu sama lain, disertai oleh gambar, suara, dan video.